Loading...

Senin, 05 Desember 2011

ULASAN TEKNIS/STRATEGI PENANGANAN PEKERJAAN/PROYEK PEMBANGUNAN TANKI 20.000 BBLS, 10.000 BBLS DAN 2.000 BBLS DI UBEP SANGASANGA & TARAKAN


ULASAN TEKNIS/STRATEGI
PENANGANAN PEKERJAAN/PROYEK



Nama Proyek     :  PEMBANGUNAN TANKI 20.000 BBLS, 10.000 BBLS DAN 2.000 BBLS
  DI UBEP SANGASANGA & TARAKAN
Pemilik Proyek   :  PT. PERTAMINA EP UBEP SANGASANGA & TARAKAN
Pemborong       :  Konsorsium PT. Abdi Bara Baja – Jasa Kita Bersama


A.     PEKERJAAN PERSIAPAN
1.        Penyelidikan secara cermat terhadap hal-hal yang berkaitan dengan lokasi pekerjaan, problem yang mungkin timbul, selama pengadaan bahan/material, pengaruh cuaca/musim selama konstruksi, keadaan tanah, peraturan-peraturan, undang-undang dan hukum yang berlaku.
2.        Survey langsung di lokasi pekerjaan sebagai persyaratan design engineering dan pembuatan gambar-gambar konstruksi.
3.        Pembuatan dan Persetujuan Construction Drawing berdasarkan basic design dan standard yang telah dipersiapkan oleh PERTAMINA EP UBEP Sangasanga & Tarakan.
4.        Pemborong akan melakukan Inspeksi dan Verifikasi bersama-sama Pertamina terhadap Material yang disupply sebelum dilaksanakan pekerjaan.
5.        Pemborong akan membuat kantor sementara sebagai pusat sentralisasi laporan kerja dan tempat koordinasi selama pelaksanaan pekerjaan.
6.        Reqruitment tenaga kerja non skill dari lokasi sekitar kerja dengan tidak menutup kemungkinan penerimaan tenaga skill lokal jika ada. Hal ini dilakukan untuk memberikan kesempatan kerja dan pendekatan dengan penduduk sekitar sehingga tidak menimbulkan kesenjangan sosial atau menekan timbulnya masalah.
7.        Pembuatan ijin-ijin kerja dan ijin masuk baik untuk tenaga kerja, peralatan maupun material dengan pihak PERTAMINA EP maupun dengan Pemerintah setempat.
8.        Penyediaan Transportasi selama pekerjaan berjalan.
9.        Pembuatan format-format laporan sebagai bahan pendukung data dalam meeting koordinasi, progress dari seluruh tahapan pekerjaan mulai dari engineering hingga selesainya pekerjaan konstruksi.
10.     Melakukan Koordinasi antara Tim Pelaksana dengan Pengawas Lapangan PERTAMINA, untuk selanjutnya dibuatkan Rencana Kerja Lapangan.
11.     Stand-up Metting akan diadakan setiap hari dengan dihadiri LKKK Pertamina EP UBEP Sangasanga & Tarakan sebagai langkah koordinasi kerja
12.     Pelaksanaan Training & Welder Test
a.    Dalam hal ini Welder Training akan dilaksanakan sebelum suatu pekerjaan dilakukan pengelasan. Welder Training dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 minggu sampai kondisi juru las  itu yakin dalam meghadapi welder test yang akan dilaksanakan oleh pemborong/ kontraktor.
b.    Welder Training disini bisa juga dilakukan untuk menghadapi pelaksanaan WPS/PQR.

c.    WPS/PQR didalam pelaksanaan pekerjaan pengelasan harus sudah ada disyahkan oleh DIRJEN Minyak dan Gas Bumi lebih dulu baru pelaksanaan pekerjaan pengelasan dilapangan diijinkan/laksanakan. Kondisi juru las diusahakan prima untuk menghadapi WQT (Welder Qualification Test). Dalam pelaksanaan WPS/PQR yang perlu digaris bawahi adalah dalam uji terhadap spesification bahan yang telah ditentukan dari     PT. PERTAMINA EP UBEP Sangasanga & Tarakan.
d.    WQT hanya dilaksanakan untuk welder yang sertifikatnya sudah tidak berlaku, bagi yang masih berlaku cukup dengan Production Test.
e.    Bila PERTAMINA telah memiliki WPS/PQR sesuai dengan spesifikasi material yang ada, maka kami akan memakai sebagai referensi teknis pelaksanaan pekerjaan (bila diizinkan).
12.   Spesifikasi Yang Dipakai
Spesifikasi ini dilengkapi dengan spesifikasi-spesifikasi yang diambil, dimana yang berhubungan langsung dengan pekerjaan pembuatan tangki seperti API, ASTM, ANSI, ASME, NACE, NFPA, AWS, SII, SSPC dan  STC.
13.    Material :
a.    Procurement Material termasuk pengadaan Equipment (bila ada) disesuaikan overall time schedule.
b.    Cara Penyimpanan Material :
·         Pemborong akan mengusahakan cara-cara penyimpanan dari material-material sebaik-baiknya seperti fitting, valve, plate-plate dan sebagainya dilapangan.
·         Material-material yang disimpan tersebut hendaknya di letakan secara baik,  diberi landasan-landasan kayu atau benda lain sedemikian rupa sehingga aman terhadap kerusakan, dan kotor oleh tanah.
c.    Plate-plate dan baja profil yang dipakai harus memenuhi persyaratan fisik dan komposisi kimia sesuai ASTM A.283 Grade C atau ASTM. A36.

B.  PEKERJAAN SIPIL

UMUM
1.        Untuk mendapatkan tangki dengan dinding melingkar dan lengkungan yang sempurna, tidak terdapat lekukan setempat maka harus ditunjang fondasi yang betul-betul rata, dimana diperoleh kedudukan tangki secara baik. Oleh sebab itu kedudukan fondasi harus di cek, yaitu pada kondisi-kondisi pekerjaan ereksi tangki sudah selesai diatas fondasi sebelum dan sesudah hydrostatic test
2.        Permukaan fondasi yang letaknya berdekatan dengan kaki dinding tangki/shell plate, settlement (lendutan) yang terdapat pada pengukuran tidak boleh melebihi 3 MM (plus minus), pada jarak keliling tiap 3 meter dan plus minus 12,7 mm terhadap seluruh lingkaran. Sebelum dimulai pekerjaan ereksi diatas fondasi, kontraktor harus memeriksa secara teliti ketinggian level dan kemiringan-kemiringan pada fondasi tersebut.


PEKERJAAN PONDASI TANGKI

1.        Pertama kita akan melakukan pengukuran data-data/steak out untuk titik-titik pemancangan dengan diberi tanda dengan patok dolken/kaso, dibuat tinggi-tingginya sekitar 10 cm – 20 cm dari permukaan tanah yang ada.
2.        Pemancangan tiang pancang dengan kedalaman disesuaikan dengan desain tiang pancang yang telah disetujui oleh PT. Pertamina EP UBEP Sangasanga & Tarakan.
3.        Bila semua perlengkapan pancang dan perizinan untuk pelaksanaan pekerjaan tersebut sudah disetujui, maka kita dapat melaksanakan pekerjaan Pancang.
4.        Pemotongan tiang pancang sesuai dengan elevasi.
5.        Selanjutnya pemasangan bowplank dengan elevasi ± 0,50 M dari muka tanah, hal ini penting untuk mengetahui ukuran yang diminta (sesuai gambar).
6.        Penggalian tanah pada sekeliling tiang pancang sesuai kebutuhan.
7.        Pemasangan pasir urug/sirtu dapat dikerjakan dan dipadatkan sesuai elevasi atau tebal 10 cm padat sesuai gambar yang telah disetujui oleh PT. PERTAMINA EP UBEP Sangasanga & Tarakan.
8.        Pengecoran lantai kerja campuran = 1:3:5 dengan ketebalan minimal = 5 cm.
9.        Penyetelan pembesian pondasi dan dilanjutkan dengan pemasangan bekesting pondasi.
10.     Pengajuan izin untuk pekerjaan pengecoran pondasi. Pengecoran pondasi campuran 1:2:3 atau yang telah ditetapkan di dalam gambar desain dapat dikerjakan apabila :
·         Izin pengecoran sudah disetujui .
·         Material : alat bantu ; manpower & consumable sudah siap/tersedia yang cukup dilapangan.
11.     Pengijinan pengecoran sudah disetujui, pembuatan parit disekeliling pondasi tanki
12.     Pada saat pengecoran berlangsung agar dibuat kubus test/cylinder test minimal = 1 (satu) Ea untuk pengecoran beton = 5,00 M³.
13.     Pembongkaran bekesting dapat dikerjakan setelah beton berumur minimal = 2 x 24 jam dan dilanjutkan dengan pekerjaan pengurugan di sekitar pondasi dan dilanjutkan dengan pekerjaan asphal sheet.


C.    PEKERJAAN MEKANIK

PENGELASAN
1.      Kualifikasi Tukang Las
a.    Semua jenis pekerjaan pengelasan untuk plat tangki, kerangka besi, bangunan pelengkap dan mounting yang dikerjakan dilapangan akan dikerjakan oleh tenaga tukang las yang mempunyai kualifikasi dibidang pekerjaan ini.
b.    Para tukang las harus diseleksi terlebih dahulu melalui test, pengetesan dan prosedurnya harus mengikuti API Standard 650. Lihat “Spesifikasi prosedure pengelasan”. Para tukang las tersebut harus lulus dan mempunyai sertifikat dalam kualifikasi untuk pekerjaan ereksi tanki.
2.      Kualifikasi Prosedure Pengelasan
Pemborong akan memberikan contoh hasil pengelasan test plate, dengan menggunakan welding prosedur yang disetujui PT. PERTAMINA EP UBEP Sangasanga & Tarakan, untuk diadakan pengujian dan penyesuaian, bahwa prosedur tersebut apakah sudah cukup memenuhi dan dapat digunakan untuk konstruksi tangki sesuai kualitas yang dibutuhkan. Prosedur pengelasan tersebut disusun berdasarkan referensi Section IX –ASME Boiler and Pressure Vesslel Code.
3.      Spesifikasi Prosedur Pengelasan
Para tukang las dan operator dalam melaksanakan pekerjaan pembuatan tangki harus mengikuti spesifikasi prosedur pengelasan yang disetujui oleh PT. PERTAMINA EP UBEP Sangasanga & Tarakan.
4.      Keadaan cuaca
Pekerjaan pengelasan tidak diperbolehkan untuk dilanjutkan jika permukaan pengelasan basah oleh air (pada waktu hujan atau angin kencang), kecuali jika melakukan pengelasan dimana operatornya pada tempat yang terlindung oleh air/hujan/angin kencang dengan baik.


5.      Electrode
Pemborong akan memakai tukang las yang berpengalaman dalam hal penggunaan kawat las yang digunakan untuk pengelasan tangki. Penyimpanan electroda harus ditempatkan pada tempat yang kering dan terbungkus dengan baik.
a.    Electroda untuk Carbon Steel yang dipakai adalah produksi Kobe Steel Ltd. No. B-14 Ilmenit type. Electroda tersebut sebelum digunakan harus dipanaskan dahulu didalm oven antara 30 menit sampai 60 menit dengan temperatur antara 70°C sampai 100°C.
b.    Permukaan logam yang akan digunakan pengelasan harus dalam keadaan bersih terhadap bekas pemotongan, minyak, oli, karat, air, dan kotoran-kotoran lain yang dapat mempengaruhi kualitas hasil pengelasan. Untuk pengelasan yang berlapis, pada pembuatan lapis las yang berikutnya, haruas dibersihkan terlebih dahulu slag-slag dan kotoran lainnya. Setelah penyambungan pengelasan diselesaikan, maka permukaan harus dibersihkan dan di sikat sebelum dilakukan inspeksi terakhir.
c.    Pada pengelasan double bevel, sesudah bagian luar diselesaikan pengerjaannya, kemudian dibagian dalam dilaksanakan penyambungan las ini, sebelumnya dilakukan Back Chipping dengan grinder atau dengan pneumatic tools. Logam lasan pada setip sisi sambungan las butt joint harus disusun berlapis/overlap sedemikian rupa, permukaan pengelasan akan lebih menonjol dari pada muka platnya, dengan ketinggian tonjolan tersebut tidak boleh lebih dari 3,2 mm untuk sambungan horizontal dan 2,38 mm untuk sambungan vertikal.
d.    Pengelasan tracking digunakan pada sambungan-sambungan plat secara vertikal, dan untuk sambungan horizontal antara plat dinding dengan plat dasar selama pembuatan tangki. Lasa tacking tersebut harus dibuang jika sudah tidak diperlukan. Las tcking pada sambungan horizontal antara plat dinding tegak, dan sambungan antara plat dinding dengan roof plate tidak perlu dibuang, bisa ditutup dengan lapisan cover bead. Arc strike pada permukaan plat tidak diperbolehkan.
e.    Untuk Sheel butt joint semua penyambungan shell plate dilakukan butt welded dari kedua sisinya. Semua sambungan vertikal butt joint, dengan single-vee harus penuh penetrasi lasnya. Demikian juga untuk untuk sambungan horizontal butt joint single bevel harus penuh penetrasi lasnya.
f.     Jika ditemukan hasil pengelasan yang kurang sempurna, maka haru di gouging atau di gerinda secara baik, kemudian dilakukan pengelasan kembali sesuai bentuk dan kualitas yang telah ditentukan. Perbaikan ini hanya boleh dilaksanakan berulanag ditempat yang sama sebanyak 2 (dua) kali. Perbaikan untuk ketiga kalinya ditempat yang sama dilaksanakan dengan cara memotong /membuang seluruh las-lasan sepanjang yang rusak, membuat bevel baru dan dilas kembali.


D.        PEMERIKSAAN RADIOGRAPHY

1.        Hasil pengelasan akan diperiksa dengan cara pemeriksaan radiografi. Untuk las-lasan yang ternyata tidak memenuhi persyaratan radiografi, akan diperbaiki sesuai dasar butir (C.5.f) diatas.
2.        Pemeriksaan ini dilaksanakan oleh pihak ketiga sesuai dengan prosedur radiografi untuk tangki yang telah di setujui dan API. STD. 650.
3.        Jumlah dan lokasi titik-titik untuk pengujian radiografi ini adalah sesuai dengan Gambar-1 yang dikutip dari API Standard 650.

                                   
E.         PEKERJAAN EREKSI

Umum
1.        Pekerjaan ereksi segera dilaksanakan setelah pemotongan dan pengelasan plate secara betul, sesuai dengan metode pengelasan. Penyelesaian pertama adalah pembuatan plate dasar/bottom plate.
2.        Setelah sambungan-sambungan pengelasan bottom plate selesai hingga ujung terluar dari plat dasar (selesai dilas/ikat) maka bisa dilakukan vacuum test. Setelah itu dilakukan ereksi plate dinding (sheel plate) bagian bawah (bottom plate) di stel pada tempatnya, dan sambungan-sambungan verticalnya dapat dilakukan tacking. Pada keadaan ini, tegak lurusnya, kelengkungan, dan level bagian atas dari plate-plate dinding bottom course, harus benar-benar teliti.
3.        Selanjutnya ereksi plate-plate diatas plate dinding terbawah (bottom plate), yaitu 2nd course plates, ditempatkan secara benar, dan sambungan-sambungan vertikal dari bottom course segera dapat dilas secara lengkap. Setelah pengelasan sambungan-sambungan vertical tersebut diselesaikan, maka selanjutnya sambungan horizontal dikerjakan. Demikian seterusnya untuk penyambungan plate dinding diatasnya sampai dicapai tinggi top curb angle.

4.        Lay out dari plate dasar (bottom plate) dan pengelasannya.
a.    Lay out dari plate dasar
Dengan keadaan alas/dasar tangki yang baik, maka persiapan pertama untuk ereksi tangki adalah pembuatan layout dan pemasangan plate bawah. Plate-plate bawah yang berbentuk persegi empat yang disusun/sampai batas sisi luar lay out dan saling overlap, sehingga mencukupi untuk pemasangan plate-plate dinding tangki.
Pada plate dasar di buat 4 lokasi / titik pada lingkaran
A = 90°                            C = 270°
       B = 180°                          D = 0°
Dimana akan dipasang patok untuk mengikatkan kawat penarik antara titik A dan C dan titik B & D sebagai sumbu-sumbu, supaya diperoleh keadaan dimana pusat dari plate bawah tangki terletak pada posisi yang sebenarnya dipusat lingkaran sesuai dengan gambar. Overlaping antara sisi plate-plate dasar untuk bottom plate dari tangki sedikitnya 25 mm setelah pengelasan penyambungan plate-plate selesai, dilakukan pemotongan keliling lingkaran, dengan memperhitungkan untuk tempat posisi las sambungan antara bottom plate dengan shell plate diambil lebar radial 1 inchi terhadap diameter shell plate terluar.
b.    Pengelasan pada bottom plates
Untuk bottom plates penyambungannya dilakukan pengelasan pada bagian sisi atas saja dengan pengelasan full fillet sepanjang sambungan. Arah pengelasan (lapis pertama) dimulai kira-kira dari tengah sambungan kearah luar menuju sisi lingkaran. Untuk pengelasan lapis pertama dari penyambungan dibuat bertenggang (skip welded) dimana jarak antara skipping tersebut dapat dipenuhi oleh pengelasan dengan satu kawat las, selanjutnya untuk lapis pengelasan /full fillet dilakukan secara terus-menerus.
Setelah semua plate untuk dasar tangki sudah disambung /dilas, maka semua hasil lasan akan di test untuk menjamin bahwa tidak akan ada kebocoran pada dasar tangki. Test kebocoran (leak test) pada sambungan-sambungan dikerjakan dengan menggunakan vaccum box, dimana sepanjang sambungan pengelasan akan disemprot dengan busa sabun.
Pada saat pemeriksaan pada sambungan pengelasan vaccum box akan divacumkan dengan pemakai vaccum pump atau compressor, dan ditahan hingga minimum vacuum 2 psi. Untuk sambungan pengelasan antara bottom plate dengan bottom course apabila tidak ada vacum box khusus, akan diperiksa dengan cara pemeriksaan dye penetrant check.
                               

Ereksi dan Pengelasan Plate Dinding Tangki  (Shell Plates)

1.      Bottom Course dan 2nd Course

Pada lingkaran bagian dalam dari rencana dinding tangki yang tergambar pada bottom plates, dipasang pasak-pasak (blanket nuts) dilas dengan jarak interval 1 meter melingkar. Blanket nut ini akan membantu untuk positioning dari bottom course plates (Gambar -3). Diutamakan dalam menyusun shell plates melingkar sesuai kedudukannya dimana semua erection jigs seperti blanket nut, keyplates, scaffolding dan bracket clips agar terpasang pada likasi-lokasi yang tertentu pada shell plates. Dengan menggunakan crane atau alat untuk konstruksi shell plates diangkat dan ditempatkan secara tepat pada lokasi yang telah bertanda pada bottom plates, demngan memberi jarak untuk sambungan vertical 3 mm antara shell plate, dan sambungan vertikal disemat (tack weld) dari bagian dalam tangki. Setelah sambungan vertikal dari shell plate di tack semua, kedudukan dari shell course harus dicheck dengan mengukur jarak dari shell plate terhadap suatu lingkaran pembantu (marked cirlcle) yang terletak pada jarak radial 100 mm didalam lingkaran bagian dalam dari shell plate, pengukuran tersebut dilakukan pada 2 (dua) titik untuk setiap shell plate.
Setelah sambungan vertikal dari shell lengkap dilas, maka kelengungan dari shell harus di check, pada dua titik dari setip shell plate terhadap lingkaran pembantu (marked circle). Toleransi radial untuk shell plate untuk tangki dengan diameter 0–40 ft adalah ± 12,7 mm.

a.        Ereksi & Pemasangan Bottom Course
·         Untuk menjamin ketepatan ukuran lingkaran dan kelengkungannya dalam pemasangan shell plates, maka perlu dibuat tanda lingkaran tersebut pada bottom plate dari tanki.
·         Demikian juga dibuat lingkaran pembantu (marked circle) dengan jarak radial 100 mm dari bagian dalam shell plate digunakan sebagai jenis referensi untuk kontrol pekerjaan-Pekerjaan selanjutnya seperti pada pemasangan shell plate dan aksesories-aksesories.
·         Setelah ereksi dari bottom course dari shell plate selesai, dengan lingkaran dan kelengkungannya sudah sesuai, maka level dan tegaknya di check, dan kemungkinan dapat diperbaiki untuk dicapai toleransi yang telah ditentukan.

b.       Ereksi dan Pemasangan dari 2nd Course dari Shell (Gambar-4)
·         Setelah kelengkungan/lingkaran posisi horisontal, vertikal dari bottom course dari shell plate di check dan disetujui oleh pengawas PERTAMINA, dibuat skur-skur (brackets) untuk scaffolding.
·         Erection jigs juga dibutuhkan untuk ereksi shell plate bila perlu dipasang pada sisi luar dan sisi dalam dari shell plate.
·         Demikian juga pembuatan perlengkapan diatas dilakukan 2nd course dari shell plates.
·         Pemasangan jigs dan bracet untuk scaffolding dibuat berjarak kurang lebih sepertiga dari panjang pelat, shell plate.
·         Plate-plate pengikat sementara antara shell plate (shim plate) dipasang untuk menjaga kedudukan jarak root untuk pengelasan antara shell plate horisontal dan vertikal masing-masing 3mm.

2.      Pengelasan dari Bottom Course dan 2nd Course

Sambungan vertikal dari bottom course dilas dari bagian luar, hasil lasan digerinda bagian dalamnya, untuk meyakinkan bahwa hasil lasan tersebut dengan pengamatan visual sudah cukup baik. Selanjutnya pengelasan dilakukan dari dalam.
Sambungan vertikan dari 2nd course dari shell plate pengelasannya sama dengan pada bottom course.
Setelah pengelasan penyambungan vertikal pade bottom course dan 2nd course dari shell plate diselesaikan kemudian 2nd distel posisinya terhadap bottom course sedemikian sehingga didapat hubungan yang rata pada bagian dalamnya.
Pengelasan horisontal antara bottom course dan 2nd course dikerjakan dengan urutan pekerjaan sama pada penyambungan vertikal.
Shell plate/bottom course dilas secara kontinyu pada setiap sisi (dalam dan luar) Ke bottom plate (pelat bawah). Panjang kaki dari kedua lasan tersebut harus sama dengan ketebalan bottom plate.

3.      Penyetelan dan Pemasangan Top Course dari Shell Plate

Setelah sambungan horisontal antara bottom course dan 2nd course selesai dilas, maka  dibuat top course. Pekerjaaan pembuatan dan pemasangan top course sesuai dengan pembuatan pada 2nd course, yaitu penyetelan pengelasan dari luar, pembersihan/grinding bagian dalam, pengelasan dari dalam untuk masing-masing sambungan vertikal dan horisontal.

Penyetelan dan Pemasangan Roof Plate
Sebelum ereksi dari roof plate dimulai, dinding tanki posisinya dicheck apakah ada settlement, ketidak tepatan posisi, ukuran dan ketidak rataan sisi atas dari top course shell plate, sebelum dipersiapan posisi untuk roof plate.
Rangka atap dan Certre Coloum distel/dikerjakan dibawah, setelah selesai baru diangkat keatas dengan crane.
Center of ring harus diletakkan diatas tumpuan sementara kemudian pelat-pelat (roof plate) diletakkan diatasnya dan penyetelan dapat dilakukan untuk persiapan penyambungan.
Untuk memperkecil pengaruh distorsi akibat kerutan-kerutan karena pengelasan, dipakai metoda skip welding seperti pada bottom plate.
Overlaping dan pengelasan pelat-pelatnya sesuai pada pekerjaan bottom plate.
Setelah semua pelat untuk atas sudah ter-las, semua hasil lasan ditest, tyerhadap kebocoran. Pada saat dilakukan hydrostatic test pada tanki, untuk atap akan ditest dengan memompakan udara dibawah atap/roof plate dimana sewaktu tanki penuh air. Tanki roof di test dengan tekanan 50 mm kolam air.
Untuk menyelidiki kebocoran akan disemprotkan dengan busa sabun pada setiap hasil penyambungan.

1.     Fitting, Mounting dan Accessories

Pemasangan fitting-fitting, posisinya harus sesuai dengan gambar, untuk menjamin ketepatan posisi fitting-fitting agar diberi tanda elevasi dan as-asnya pada dinding tanki. Tidak diperkenankan pemasanganfitting, mounting dan accessories lainnya pada tanki sebelum tanki tersebut diberi tanda posisinya, dan posisi tanda tersebut akan dicheck kebenarannya oleh kontraktor dan oleh Pertamina.
a.       Shell Manhole dan Shell Nozle
Typical detail pengelasan untuk manhole dan nozle ditunjukkan pada Gambar-6.
b.       Vertical Ladder
Vertical ladder akan dipasang dan dilas setelah pengelasan shell plate semuanya diselesaikan.

         

Toleransi  untuk Ereksi dan Pengelasan


Untuk memeriksa kedudukan dan aligment untuk bottom course dari shell plate terhadap toleransinya sesuai menurut paragraf sebelumnya.
Jika ada ketentuan lain yang dibuat oleh pertamina dalam hal ini, dapat juga dipakai untuk pegangan konstruksi.

1.       Tank Shell; Vetikal
Setelah ereksi dan pengelasan pada shell tank selseai sampai pada bagian top  course, dilakukan penecekan vertikal. Toleransi vertikal yang diperkenankan adalah 1/200 x tinggi tangki. Penecekan dilakukan pada setiap shell plate satu titik.

2.       Toleransi Sambungan Horisontal dan Vertikal

Berdasarkan bentuk rencana dari shell, kedudukan horisontal dan vertikal, dapat diikuti seperti dibawah ini :

a.    Toleransi kesalahan untuk sambungan vertikal maksimum 10% kali tebal plate atau 1/16 inchi, dipilih mana yang lebih besar.

b.    Untuk sambungan horisontal anatar plate bagian atas dengan plate dibawahnya, muka sambungan harus rata dengan toleransi ketidak tepatannya maksimum 20% kali tebal plate yang atas atau 1/8 inchi maksimum.


INSPEKSI VISUAL


Kriteria Inspeksi visual pada pekerjaan sebagai berikut :
1.        Penampang dari hasil fillet weld sedemikian rupa sehingga panjang leg sama (± 1.5 mm) dan permukaan dari lasan agak cembung dan tidak beroverlap pada ujung-ujung lasan.
2.        Penampang dari butt weld adalah seragam, agak cembung dan tidak overlap pada ujung-ujung lasan.
3.        Ketinggian dan jarak dari kerutan / ripples harus seragam.
4.        Hasil Lasan tidak ada yang under cut.
5.        Tidak diperbolehkan keadaan hasil lasan pada satu titik menggumpal ataupun berongga yaitu pada tempat-tempat start dan stop pengelasan.
6.        Permukaan dari lasan tidak berongga dan kotoran las (slag) segera dihilangkan dan tidak mengandung porosity.
7.        Perubahan bentuk dari bottom, shell dan roof plate harus masih dalam batas-batas yang diperbolehkan sesuai spesifikasi.
8.        Bekas tack weld dari erection jigs dan lain-lainnya harus digerinda hingga rata permukaan plate, apabila terdapat undercut akibat pekerjaan melepas erection jigs tersebut, harus diisi dahulu dengan las kemudian digerinda rata plate.

HYDROSTATIC TEST


Shell dan fixed roof dari tangki akan di test setelah pekerjaan roof plate selesai.
Hydrostatic test yang dilakukan adalah mengisi tangki dengan air sampai mencapaiketinggian muka air hingga top leg dari sudut top curb, dan pencatatan / penandaan pada tempat-tempat yang mengalami kebocoran.
Hydrostatic test tersebut berlangsung sedikitnya selama 24 jam.
Jika terjadi penurunan/settlement pada podasi tangki akan segera dilaporkan ke PERTAMINA, dan pengisian air pada tangki segera dihentikan, dengan tinggi muka air dicatat, test segera dihentikan menunggu kepurtusan yang akan diambil oleh PERTAMINA.


D.   LAIN-LAIN

 

PENGECATAN

1.      Pengecatan dikerjakan sesuai dengan spesifikasi yang telah disetujui PERTAMINA.
2.      Pemborong akan menyediakan semua material, pengawas dan pekerja yang berpengalaman dalam bidang pengecatan tangki.
3.      Metarial cat yang tiba di Site harus dalam keadaan baik, tertutup rapat menurut aslinya, merek dan nomor/macam warna dan cat tidak boleh dibuka jika belum siap untuk dipakai. Dalam penyimpanan dan pemakaian temperatur harus dijaga diatas 35° F.
4.      Pencampuran/Pengadukan bahan harus mengikuti petunjuk pabrik pembuatnya. Pekerjaan Pencampuran dilakukan sewaktu siap melakukan pekerjaan pengecatan, agar tidak merubah mutu hasil pengecatan yang disebabkan karena persiapan pemakaian cat terlalu lama.
5.      Usahakan seluruh permukaan yang akan dicat terbebas dari kotoran dan karat-karat.
6.      Setiap lapis pengecatan diusahakan mempunyai ketebalan yang merata tidak berpori, arah gerakan melengkung atau melingkar. Jika ada permukaan yang akan disempurnakan, harus ditunggu hingga lapisan dalam keadaan kering.
7.      Tidak diperbolehkan dilakukan pengecatan jika temperatur permukaan besi dibawah 50° F, dan ketebalan relatif diatas 85%.
8.      Hasil pengecatan kering dari setiap lapisan pengecatan akan diukur ketebalannya dengan alat non destructive film thickness gauge, demikian juga dengan ketebalan totalnya, untuk menjamin hasilnya sesuai spesifikasi.
9.      Waktu Pengeringan diantara lapisan adalah 24 jam pada temperature 70° F.
10.   Setelah lapisan pengecatan paling atas selesai, diperlukan waktu pengeringan minimum 3 (tiga) hari sebelum tangki dioperasikan.

KEAMANAN PELAKSANAAN PEKERJAAN

1.      Pemborong akan melengkapi semua keperluan perangkat keamanan untuk pelaksanaan sesuai dengan spesifikasi pekerjaan ereksi dan mekanikal umunya.
2.      Perangkat keamanan yang dibutuhkan termasuk explosion proof lights dan peralatan listriknya, masker yang dapat dihubungkan lansung dengan udara luar dan exhaust fans yang memungkinkan untuk menjadikan solvent vapor dibawah 20% dari explosive limit, atau ¼ % dari volume solvent vapor di udara luar.
3.      Pekerja-pekerja yang melakukan pekerjaan di dalam ruang tertutup agar menggunakan safety hardness dan pekerjaan-pekerjaan tersebut jangan melalui pekerjaannya selama masih ada orang lain di daerah tersebut.
4.      Tempat untuk merokok, supaya disediakan pada daerah-daerah yang telah ditentukan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar